Halaman

Jumat, 14 September 2012

This dream at this time ( MonoLog #3)

Karena apakah?
Sosok itu muncul lagi

Karena aku habis melihat sosok yg mirip denganmukah ditontonan tadi malam?

Karena apakah?

Karena aku terlalu fokus pada sosok itu saat melihat dilayar kaca? Tapi bukan sosok itu yang jelas kulihat.. it's you

Karena apakah?

Karena adakah yang belum selesai dan berakhir darimu..sobat

Terpisah tanpa pesan
Memang merasa ada yang belum berakhir..
Tapi jika itu yang terbaik
Kumohon...sampai disini saja engkau masih menyempatkan hadir...
Sama saja..
Sebab..di mimpi engkau hadirpun..sosokmu hanya terasa dekat tapi sesungguhnya disanapun aku melihatmu dari jauh..

Sobat..

Kamis, 13 September 2012

MonoLog #2

aku memang sedang suka menyendiri
oh tidak,
lebih tepatnya merenung

teman-temanku mungkin akan berfikir aku menyendiri, sekarang…
lebih banyak diam memikirkan, tapi segera bertindak tanpa bertanya lagi

jujur,
aku merasa lebih berani untuk melakukan apa yang benar-benar aku mau tanpa terlalu banyak mempertimbangkan perasaan orang lain sampai kadang dahulu membuat letih perasaan sendiri..

ternyata, ini hikmah dari semua yang aku alami beberapa bulan ini
closed.

yap sekedar monolog
aku mulai suka melakukan yang aku mau meski tetap pada proporsi
aku belum benar-benar melangkah terlalu keluar dalam zonaku
itu karena..

perasaannya masih sangat dan semoga juga akan menjadi lebih penting bagiku
hingga nantinya membuatku berani melangkah keluar..bersama.. menjadi lebih baik..dengan bersama-sama
haha..

Amin (^/\^)

houh ..masih banyak yang ingin aku tulis..tapi sungguh diri ini geregetan…
sabarkanlah hamba dan dirinya Yaa Rabb
rencanaMu selalu lebih indah

IMG_20120910_090203

Selasa, 11 September 2012

MonoLog #1

 

pelaksanaan itu lahir dari penghayatan ,
penghayatan itu lahir dari pemahaman,
pemahaman itu lahir dari membaca,
membaca itu lahir dari melihat dan menyentuh,

dan hal tersebut berawal dari kesadaran
kesadaran itu berawal dari kemauan untuk mengakui sejujur-jujurnya apa yang dibenarkan dan ditolak oleh qolbu.
kamu telah tahu? maka "laksanakan" dari awal secara utuh


~ #refleksi

sKY_3

Jumat, 07 September 2012

Sabar #1

Bagaimana aku bisa tidak berkata..

I ..
Really really miss you..much

Huffh

Good night..

Semoga bisa benar benar segera mengatakannya.

Amin

Rabu, 29 Agustus 2012

Just share #1

 

Saya sering merasa sedih untuk beberapa hal simple yang kadang menjadi besar ketika teramat saya pikirkan

Kemudian saya memilih cuek, acuh terhadap hal-hal simple yang lantas terjadi sesudahnya. Namun sayang, yang saya acuhkan ternyata seringkali  menjadi hal yang besar untuk kemudian membuat kalang kabut jalan didepan saya.

oh?
lantas harus bagaimanakah sebenarnya saya memposisikan pemikiran saya?

the sky after last moment there ~ FPYNK



sebuah sinyum tersimpul ketika tanpa sengaja sebait kalimat sampai terlintas di pemikiran saya (lagi-lagi otak saya berpikir)

”hatimu pikiranmu lakumu satukan dalam sabar dan syukur”

sabar untuk hal simple yang menjadi masalah besar
syukur untuk hal simple yang menjadi rahmat yang besar

that’s right,
sekecil apapun segala sesuatu, akan menjadi hal yang besar someday
yap
besar sebagai masalah atau rahmat?

”hatimu pikiranmu lakumu satukan dalam sabar dan syukur”

:)

NB :

فَبِأَيِّآلَاءرَبِّكُمَاتُكَذِّبَانِ

Fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadzdzibaan ?
”Maka ni`mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS Ar Rahman :13)

وَإِذْتَأَذَّنَرَبُّكُمْلَئِنشَكَرْتُمْلأَزِيدَنَّكُمْوَلَئِنكَفَرْتُمْإِنَّعَذَابِيلَشَدِيدٌ

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim : 7)

Selamat malam
Semoga bermanfaat

Selasa, 28 Agustus 2012

I Love…

IMG_20120828_1

 

berdoa ..selalu bersama dan yang terbaik untuk kami di jalanMu
jaga dan lindungilah lah kami selalu dijalanMu bersamaMu

Ya Rabb

Always

Amin

Kamis, 26 Juli 2012

Memaknai kehilangan

Pagi tadi...setengah mengantuk dijam kerja kantor
Seorang kawan menyapa lewat media maya dilayar handphone..
Menyapa seperti biasa..
Tapi yang aku tahu, baru beberapa hari ia kehilangan anggota keluarganya..adik bungsu yang tiba-tiba pergi..
Kuberanikan diri bertanya saat itu,paling tidak sapaannya hari ini indikasi bahwa kesedihannya sudah berkurang...

Bagaimana keadaannya "sudah baikankah?" Tanyaku lewat ketikan pendek

"Alhamdulillah" jawabnya

Lalu percakapan berlanjut tentang makna keikhlasan, itu yg tersirat
Dia bertanya apa perbedaan antara mengenang untuk mendoakan dan meratap

Meratap?


Seketika aku teringat diriku sendiri, beberapa tahun lalu..dan mungkin bahkan kini masih tersisa sisa sisa ratapan.

Ditinggalkan secara tiba-tiba oleh seseorang yang paling memahami dan menyayangi dihidupku saat itu (yang aku pahami)


Aku meratap?

Sekarang berani kudefinisikan iya..dulu aku sempat meratap bertahun tahun tanpa pernah aku pahami bahwa aku sedang meratap


Aku berjalan di langkah-langkah aktivitas yang semu menyibukkan
hati dan pikiran. Demi membunuh perasaan kehilangan dan kesedihan yang amat dalam yang bahkan tak kusadari aku sedang mengalaminya
Aku mencoba lari dengan mengambil sebanyak mungkin kegiatan dikampus...
Setahun berlalu..
Dua tahun...
Tiga tahun...
Hingga tiba di tahun keempat
Saat saat terakhir untuk menyelesaikan Tugas Akhir..
Semua berjalan seperti biasa..


Aku merasa sudah baik-baik saja ...mengenangnya..mendoakannya...aku merasa telah ikhlas saja...
Meski masi berlinang air mata saat membayangkannya berada disisiku disaat saat terberat langkahku..


Aku belajar ikhlas..dan telah merasa ikhlas..


Sampai akhirnya..
Aku mendengar berita itu..
Berita yang mengubah perasaan bahwa aku belum ikhlas...
Ruang hati ibu yang ditinggalkan Bapak ternyata mulai terisi sosok asing yang tidak kukenal
Aku marah..
Rasanya seperti air mendidih yang meluap,hingga berhari hari aku menangis..tak kenal waktu tak kenal tempat

AKU MENANGIS...


Sedih...marah...hingga tak pedulikan apapun...
Tak memperdulikan hati  ibu yang telah lama berat menanggung semua beban...
Tak peduli adik-adikku masih membutuhkan sosok ayah dalam kehidupan mereka...


Hingga saat itu ...saat dimana aku akhirnya justru berkata

"Menikahlah ibu...itu lebih baik..daripada saat ini tidak dalam ikatan apapun tapi mayoritas waktu bersama..
Menikahlah.. agar kebahagiaan itu diridhoiNya"

Dan aku sadar...selama ini aku belum ikhlas...aku masih saja meratap...hanya aku berlari mengingkari..


Dan kini aku bahagia...saat melihat senyum ibu dan adik-adik kecilku bersamanya...
Kupanggil ia Pakdhe...
Permintaan sosokny yang masih juga mengakui bahwa sosok Bapak tak pernah terganti
Kuharap kami akan bahagia dalam kebersamaan yang berkah
Kuharap Bapak juga tenang dan tersenyum dari sana..
Memahami bahwa semoga aku benar-benar ikhlas engkau tinggalkan..
Sejenak..
Di dunia yang fana ini..


Amin ..Amin Yaa Rabbal'alamin


Dan engkau kawan..mari kita belajar untuk benar benar ikhlas atas dunia ini
"Setiap yang berjiwa akan mati. Dan kami akan uji engkau dengan kejahatan dan kebaikan. Hanya kepada Kamilah engkau kembali" (Q.S Al-Anbiya: 35)

MISS TORI