menyadari,
salah satu anugerah terindah dari Nya adalah melihat segala ciptaanNya
Langit sore itu, membuat saya terhenti sejenak untuk mengabadikannya dalam frame
Indah…
Masya Allah :)
Alhamdulillah diberi kesempatan menyaksikannya
menyadari,
salah satu anugerah terindah dari Nya adalah melihat segala ciptaanNya
Langit sore itu, membuat saya terhenti sejenak untuk mengabadikannya dalam frame
Indah…
Masya Allah :)
Alhamdulillah diberi kesempatan menyaksikannya
Yang saya tahu
Entah mengapa saya merasa foto ini seperti menunjukkan sisi lain saya...yang saya tidak sadari
Karena kamera ini menangkap tanpa sengaja saat kamera sedang stand by
#uPs
You know?
Melihat jauh dibatas sana itu..seperti menerawang
Karena hanya terlihat garis biru kehijauan
Sesekali riuh ombak menjadi pemanis penegas batas yang aku lihat
Sampai sekarang aku masih tidak tahu
Meski kaki sudah menyentuh airnya ..perlahan
Apa yang ada disana?
sangat bersemangat sepagi tadi menjelang berangkat ke studio, menyelesaikan rajutan yang tak terduga sebelumnya menjadi topi mini yang manis, uwmm…sampai detik ini masih memikirkan hasil akhir finishingnya…
okelah lihat nanti, hehe
Bapak(Alm.) berasal dari Semarang, tapi menginjakkan kaki di ibukota propinsi Jawa Tengah ini tetap saja masih awam. Seringkali bermain di Semarang adalah saat saya masih berusia kurang lebih 5-8 tahun. Itupun karena mengantar Nenek (Almh.) mengunjungi Om saya yang mendiami kampung halaman.
Dan berawal dari perjalanan singkat itulah, dimasa luang setelah wisuda saya menyempatkan kembali bermain di salah satu kota kenangan masa kecil.
Lawang Sewu---
beralamat di Jalan Pemuda, Komplek Tugu Muda (Wilhelminaplein) ,Semarang. Terkenal dengan sisi horornya, Lawang Sewu memiliki keanggunan tersendiri sebagai bangunan peninggalan Belanda dengan peruangan yang bisa saya bilang menarik, karena setiap ruang terhubung dengan pintu pintu.
Meskipun memiliki banyak pintu, ternyata jumlah pintu bangunan Lawang Sewu tidak sampai seribu pintu. Lawang Sewu merupakan istilah dari masyarakat setempat untuk mencirikan dengan banyaknya pintu dan daun jendela bangunan ini.
Lawang Sewu dahulu merupakan kantor NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij) yang dibangun di tahun 1904-1907. Fungsinya saat ini berada dibawah pengawasan Unit Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah PT Kereta Api Persero. Arsitek bangunan ini adalah Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan BJ.Ouendag, keduanya adalah arsitek dari Belanda.
Terdapat ruangan bawah tanah yang konon merupakan penjara bawah tanah di jaman penjajahan Belanda. Tapi , saya dan seorang teman memang tidak ingin masuk kesana karena kondisi saat itu yang tidak memungkinkan menurut hati kami. Bahkan menuju aula paling atas pun kami urungkan dengan alasan yang sama hehe…(tidak menampik karena memang terasa auranya). Foto dibawah adalah salah satu pintu menuju r. bawah tanah, terasa sekali bukan gelapnya?Anda berani? saya? lebih baik tidak daripada yang didalamnya ikut keluar nanti ,upS,XD
Kami juga mengunjungi area bangunan yang digunakan sebagai museum atau tempat informasi tentang bangunan Lawang Sewu. Berikut foto-fotonya
Foto dibawah ini merupakan bahan-bahan campuran yang digunakan sebagai bahan konstruksi bangunan, selain itu adalah bata merah dari tanah khusus sebagai konstruksi utama, yang saat ini sangat sudah sangat jarang ditemukan. Maka untuk efisiensi, rekonstruksi beberapa bagian menggunakan teknologi modern saat ini.
Sempat melihat sudut yang menarik maka saya abadikan
Sekian, Semoga bermanfaat
*sumber : Guide Lawang Sewu dan Museum Lawang Sewu
“Umareta koto no imi mo shirazuni
Kieteyuku sonzai ni dare mo kidzukazu
Hito no warai ni oshitsubusarete
Kodoku to te wo musunda ano ko ha saigo ni
Waratteta”----- Shiroi Yuki (Kokia)
“Before I knew the meaning of being born
Everybody’s worry of not surviving anymore
People’s laugh is being wasted away
Totally confused – need help
laughing”
Sepenggal lirik untuk pribadi yang sedang bingung tertawa dalam kebingungan
Hujan turun cukup menyejukkan di senja sore tadi
Gerimis dalam keteraturan yang berlalu semakin deras di penghujung tenggelamnya mentari,
Sedikit demi sedikit kembali hanya merintik,
Meninggalkan pula jejak jejaknya disepanjang bumi ia turun melalui aroma khas tanah sehabis hujan
Aku? seperti biasa memulai dari bilik kamar yang aku sewa
mengetik, membaca, menulis, merajut, menggambar…
kadang saking asyiknya tidak perduli pada jarum jam yang berlalu
semua salah satunya untuk sepasang jejak kaki di kurun waktu nanti
Mou sukoshi- just a little more
:)
there’s always something in the way..
Baru di awal November kemarin, tanggal 10 tepatnya, saya kembali menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Kali ini dengan sudut penikmatan yang berbeda, mahal tapi gratis. Begitu saya menyebutnya.
Mahal karena sudah bisa dibayangkan,berapa budget untuk setiap hal yang saya nikmati disana, gratis karena saya adalah tamu undangan. Lebih spesial karena saya bertemu keluarga yang jarang bisa berkumpul bersama…
tetapi…
Bali, jujur saya belum bisa menikmati keindahannya. Bahkan dari sudut mewah seperti ini sekalipun. Indah tapi terasa datar untuk seseorang seperti saya. tetap berucap syukur tapi langsung berganti istighfar saat mata beralih di perilaku sekitar, terutama di villa dan pantai. Oh, apalagi café…
haha, ini saya, entah kamu…
Maka di Bali saya lebih suka untuk memejamkan mata sejenak, mengarahkan pendengaran pada sayup debur ombak menerjang pantai sepi dibawah villa. Sendiri menikmati halus jejak ombak di pasir yang masih bertabur rumput laut. Merasakan halus lembut angin dikala senja dan fajar
Indah..
Semoga saya bisa kembali lagi ke sana, tapi dengan pemaknaan yang berbeda lagi tentunya. Agar saya bisa, menikmati keindahannya dari sudut pandang saya,Amin
Alhamdulillah
berdoa ..selalu bersama dan yang terbaik untuk kami di jalanMu
jaga dan lindungilah lah kami selalu dijalanMu bersamaMu
Ya Rabb
Always
Amin
Pagi itu sembari menikmati langit dibalkon
Iseng saja ku mengamati dan mengabadikan beberapa spot rumah..
Hingga akhirnya, kutemukan sesuatu yg menarik disudut celah pagar balkon..
Bentuknya seperti kendhi mini..
Tidak ada yang keluar masuk dari bentuk itu..
Tak terlalu yakin itu rumah semut seperti kukira awalnya..
Hmm..apapun itu,tak mungkin itu akibat kesalahan pak tukang..
Hihi..that's a beautiful shape.. A nature shape,I think..
Subhanallah... :)
![]() |
| stay to feel |
![]() |
| pohon bulat |
![]() |
| glare from the sky |
![]() |
| bias |
![]() |
| bias (2) |
![]() |
| bias (3) |
![]() |
| berbaris rapih |
![]() |
| 2 pantulan |
![]() |
| dingin |
![]() |
| bias (4) |
![]() |
| tekstur |
![]() |
| motorku dan helmmu |
![]() |
| aku suka |
![]() |
| bias (5) |
![]() |
| bias (6) |
![]() |
| bias (7) |
![]() |
| dari sudut anyaman |
![]() |
| dari sudut anyaman (2) |
![]() |
| haus |
![]() |
| bias (8) |
![]() |
| anak tangga matahari |
![]() |
| bias (9) |
![]() |
| pantulan dari langit |
![]() |
| bias (10) |
![]() |
| semburat |